JUNUB & TATA CARA MANDINYA

Arti Junub

Junub secara bahasa berarti jauh. Sementara menurut para ulama fikih adalah orang yang berkewajiban mandi karena melakukan jimak (hubungan badan) atau karena keluar mani.

Az-Zuhri berkata,

إنما قيل له جنب لأنه نهي أن يقرب مواضع الصلاة ما لم يتطهر فتجنبها وأجنب عنها أي تنحى

Seseorang disebut junub karena dia dilarang mendekat tempat-tempat shalat selama ia belum bersuci. Dia menghindar dan menjauhkan diri dari shalat yaitu dengan menyingkir. (Lisanul Arab, 3:209)

Sebab-sebab mandi junub

1. Keluar sperma

2. Hubungan suami istri

3. Terhenti keluarnya darah haid/menstruasi

4. Terhenti keluarnya darah nifas

5. Melahirkan

6. Meninggal

Larangan ketika junub

Berikut adalah lima hal yang diharamkan saat junub sebagaimana diterangkan dalam kitab Al-Fiqh Al-Manhaji Ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafii.

Pertama. Shalat, baik fardlu maupun sunnah. hal ini didasarkan pada ayat

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَىٰ حَتَّىٰ تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّىٰ تَغْتَسِلُوا…. [سورة النساء: الآية 43].

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. (Q.S. An-Nisa/4: 43).

Selain itu, dasar hadisnya adalah riwayat Ibnu Umar r.a. sebagai berikut.

إِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « لاَ تُقْبَلُ صَلاَةٌ بِغَيْرِ طُهُورٍ وَلاَ صَدَقَةٌ مِنْ غُلُولٍ » رواه مسلم.

“Sungguh aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Tidak diterima shalat yang tanpa bersuci dan (tidak diterima) shadaqah dari korupsi.” (HR. Muslim)

Oleh karena itu, orang yang masih dalam keadaan junub, haram melaksanakan shalat sampai ia bersuci terlebih dahulu.

Kedua. Berdiam diri dan duduk di dalam masjid. Adapun jika hanya melewati saja, tanpa berdiam diri, maka tidak haram.

Allah swt. berfirman:

وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّىٰ تَغْتَسِلُوا…. [سورة النساء: الآية 43].

(jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. (Q.S. An-Nisa/4: 43).

Rasulullah saw. pun bersabda:

” لا أجل المسجد لحائض، ولا لجنب ” (رواه أبو داود)

Tidak ada masjid bagi wanita haid dan orang junub. (HR. Abu Daud). Maksudnya adalah tidak boleh berdiam diri (lama) di masjid.

Baca Juga : Faedah Memperbanyak Sujud
Ketiga. Thawaf atau mengelilingi ka’bah baik thawaf wajib maupun sunnah. Hal ini disebabkan karena thawaf sama dengan shalat yang disyaratkan dalam keadaan suci ketika menjalankannya.

Rasulullah saw. bersabda,

الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ صَلاَةٌ إِلاَّ أَنَّ اللَّهَ أَحَلَّ لَكُمْ فِيهِ الْكَلاَمَ ، فَمَنْ يَتَكَلَّمُ فَلاَ يَتَكَلَّمُ إِلاَّ بِخَيْرٍ. رواه الحاكم.

“Thawaf di Baitullah itu seperti shalat, kecuali sungguh Allah menghalalkan bagi kalian berbicara di dalamnya (thawaf). Siapa yang berbicara, maka hanya boleh berbicara kebaikan.” (HR. Al-Hakim)

Keempat. Membaca Al-Qur’an.

Rasulullah saw. bersabda:

لاَ تَقْرَأِ الحَائِضُ وَلاَ الجُنُبُ شَيْئًا مِنَ القُرْآنِ (رواه الترمذي)

Wanita haid, dan junub tidak boleh membaca sedikitpun dari Al-Qur’an.(HR. At-Tirmidzi)

Namun, jika cara membacanya hanya di dalam hati tanpa melafadzkannya, maka diperbolehkan, sebagaimana diperbolehkan memandang mushaf Al-Qur’an. Dan diperbolehkan juga membaca dzikir-dzkir yang berasal dari ayat Al-Qur’an, namun dengan niat dzikir tidak niat membaca Al-Qur’an. Seperti ketika membaca doa Rabbanaa Atinaa fiddunyaa hasanah wafil akhirati hasanah (Al-Baqarah: 201). Atau ketika berdoa hendak berpergian “Subhanalladzi sakkhara lanaa haadzaa wa maa kunna lahuu muqriniin (Q.S. Az-Zukhruf:13). Hal itu diperbolehkan dengan niat dzikir, bukan niat membaca Al-Qur’an.

Kelima. Menyentuh dan membawa mushaf Al-Qur’an, menyentuh sobekan kertas dan sampul Al-Qur’an, atau membawa Al-Qur’an yang berada di dalam kantong atau kotak.

Allah swt. berfirman:

لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ

“Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.” (Q.S. Al-Waqi’ah: 79)

Rasulullah saw. bersabda:

” لا يمس القرآن إلا طاهر “( رواه الدارقطني ومالك).

“Hanya orang yang sucilah yang boleh menyentuh Al-Qur’an.” (HR. Ad-Daruquthni dan Malik). Wa Allahu A’lam bis Shawab.

Tata Cara Mandi Junub

Berikut ini, ringkasan tata cara mandi junub seorang Muslimah yang disunnahkan adalah sebagai berikut:

  1. Niat (Menurut para ulama niat itu tempatnya di hati).
  2. Mencuci tangan terlebih dahulu sebanyak tiga kali sebelum tangan tersebut dimasukkan dalam bejana atau sebelum mandi.
  3. Membersihkan kemaluan dan kotoran yang ada dengan tangan kiri.
  4. Mencuci tangan setelah membersihkan kemaluan dengan menggosokkan ke tanah (atau lantai) atau dengan menggunakan sabun.
  5. Berwudhu dengan wudhu yang sempurna seperti ketika hendak shalat.
  6. Menyiramkan air ke atas kepalanya tiga kali.
  7. Mengguyur air pada kepala sebanyak tiga kali hingga sampai ke pangkal rambut atau kulit kepala dengan menggosok-gosokkannya dan menyela-nyelanya (Tidak wajib bagi wanita untuk mengurai ikatan rambutnya).
  8. Mengguyur air ke seluruh badan dimulai dari sisi yang kanan setelah itu yang kiri.

Sedangkan untuk mandi karena haidh dan nifas, tata caranya sama dengan mandi junub namun ditambahkan dengan beberapa hal berikut ini:

Pertama: Dianjurkan Menggunakan Sabun.

Hal ini berdasarkan hadis Aisyah radhiallahu ‘anha, yang bertanya kepada Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam tentang mandi wanita haid. Beliau menjelaskan:

“Kalian hendaklah mengambil air dan daun bidara, lalu wudhu dengan sempurna. Kemudian menyiramkan air pada kepalanya, lalu menggosok-gosoknya agak keras hingga mencapai akar rambut kepalanya. Kemudian menyiramkan air pada kepalanya. Kemudian engkau mengambil kapas bermisik, lalu bersuci dengannya.” (HR. Bukhari no. 314 & Muslim no. 332)

Kedua: Melepas gelungan, sehingga air bisa sampai ke pangkal rambut

Hadis di atas merupakan dalil dalam hal ini: “…lalu menggosok-gosoknya agak keras hingga mencapai akar rambut kepalanya..”

Hadis ini menunjukkan tidak cukup dengan hanya mengalirkan air seperti halnya mandi junub, namun harus juga digosok, seperti orang keramas memakai sampo.

Mandi junub atau mandi wajib

Diterbitkan oleh agusjuwahir001

Teacher

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai
%d blogger menyukai ini: